• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Keagamaan
Melangkah dalam Sunyi: Menguatkan Iman dan Doa di Tanah Para Ulama

Melangkah dalam Sunyi: Menguatkan Iman dan Doa di Tanah Para Ulama

Malam itu, pukul 23.45 WIB, tim dari Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro Yogyakarta tiba di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Perjalanan panjang dari Sembego, sebuah dusun di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, menuju Tebuireng, bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan dua tempat penuh sejarah dan keberkahan.

Tim yang terdiri dari Direktur, para asatidz Madrasah Diniyah, dan Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, Fauzan Satyanegara, menziarahi makam ulama besar Nahdlatul Ulama: Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid. Doa tabarukan dipimpin oleh KH Muhammad Zaidun Lc MHum. Bersama-sama, mereka melantunkan tahlil dan salam penghormatan dengan penuh khusuk, mengisi keheningan malam dengan suasana spiritual yang mendalam.

Ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari pengamalan tawassul, sebuah sunnah yang diperintahkan agama. Sebagaimana tertulis dalam Al-Maidah ayat 35, umat Islam dianjurkan mencari wasilah, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam konteks ini, wasilah bisa berupa amal saleh, asmaul husna, maupun doa orang saleh. Melalui wasilah itulah, harapan dan doa dipanjatkan agar sampai kepada Allah dan dikabulkan-Nya.

Bagi tim pengelola madrasah dan panitia Penerimaan Santri Baru (PSB) 2025 yang tengah menjalankan program fullday dan boarding school Madrasah Aliyah Diponegoro, ziarah ini menjadi momen refleksi sekaligus ikhtiar spiritual. “Kami percaya, doa yang dipanjatkan dengan perantara orang saleh dan amal saleh akan memperkuat harapan kami agar program pendidikan ini berjalan lancar dan berhasil,” ujar Fauzan Satyanegara.

Ziarah ke makam wali adalah ibadah yang mengandung makna tabarruk, yaitu mencari keberkahan melalui perantara orang-orang saleh. Selain sebagai cara strategis mendekatkan diri kepada Allah, ziarah juga melembutkan hati dan menguatkan ikatan sosial serta penghormatan kepada para leluhur dan ulama yang telah berjasa. Kesadaran akan kematian dan akhirat menjadi penggerak utama ziarah, sekaligus momen untuk mendoakan ahlul qubur dan memberikan tanda bakti kepada ahli kubur.

Dalam suasana penuh tawadu, rombongan menundukkan hati, mengakui keterbatasan manusia, dan menyerahkan segala harapan kepada Allah melalui perantara amal saleh, doa orang saleh, asmaul husna, dan ketaatan. Ziarah ke makbarah Tebuireng ini menjadi pengingat bahwa dalam perjalanan hidup, kita membutuhkan wasilah untuk memperkuat doa dan ikatan spiritual.

Perjalanan dari Sembego ke Tebuireng bukan sekadar perjalanan jarak, melainkan perjalanan jiwa yang memperkokoh keimanan dan kebersamaan. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa pendidikan di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro bukan hanya soal ilmu dan prestasi, tapi juga tentang membangun karakter dan spiritualitas yang kokoh, berakar pada tradisi dan terbuka pada kemajuan.Bj

Bagikan berita :