
Dari Pondok Pesantren ke Perguruan Tinggi: Jejak Langkah Santri Menuju UPN

Dari keinginan yang lama dititipkan di hati, perjalanan itu akhirnya menemukan jalannya sendiri. Mondok yang dulu hanya angan masa kecil perlahan berubah menjadi ruang belajar tentang diri, tentang madrasah, dan tentang cara Tuhan menuntun masa depan.
Dari angan kecil hingga langkah pertama
Sejak SD, Mutia Nurul Muthmainnah menyimpan satu keinginan yang terus hidup: mondok seperti teman-temannya. Keinginan itu lama hanya menjadi imajinasi tanpa benar-benar tahu apa itu pondok pesantren dan bagaimana hidup di dalamnya. Barulah setelah lulus dan naik ke jenjang MA, ia memberanikan diri melangkah dan resmi menjadi santri, sembari tetap melanjutkan pendidikan formal di madrasah.
Mutia sempat mengira mondok berarti memutus hubungan dengan sekolah formal. Nyatanya, sang ayah justru menegaskan bahwa pendidikan umum tetap harus berjalan. Saat itulah ia mulai memahami bahwa mondok bukan sekadar soal tempat tinggal, tetapi ikhtiar menggandeng ilmu agama dan ilmu umum dalam satu tarikan napas yang sama.
Culture shock, kegamangan, dan arah baru
Hari-hari pertama di pondok terasa menyenangkan. Ritme hidup komunal, padatnya aktivitas, dan suasana kebersamaan seolah cocok dengan bayangan mondok yang selama ini mengendap di benaknya. Meski sempat mengalami culture shock dengan beberapa tradisi dan aturan, ia cukup cepat beradaptasi dan mulai menikmati alur harian sebagai santri.
Namun, satu peristiwa mengubah segalanya. Rasa nyaman yang semula menghangat tiba-tiba memudar. Mutia mulai merasa kurang betah, seolah ia keliru menilai bahwa kehidupan pondok selalu menyenangkan. Ia meminta izin kepada orang tua untuk keluar dan hanya fokus pada sekolah formal. Permintaan itu tak dikabulkan. Alih-alih berhenti mondok, ia justru diarahkan menuju pesantren lain: PP Pangeran Diponegoro.

Pondok yang baru ini menghadirkan suasana berbeda. Jumlah santri yang kurang dari dua ratus orang membuat lingkungan terasa lebih akrab sekaligus lebih “terlihat”; setiap pribadi seakan punya jejak yang tidak bisa bersembunyi. Kebanyakan santri berstatus laju, tidak tinggal di pondok, sementara MA Diponegoro menerapkan sistem boarding school. Di titik ini, Mutia kembali dihadapkan pada dirinya sendiri: perjalanannya sebagai santri belum selesai, justru baru dimulai dengan babak yang lebih serius.
Menjadi perintis di madrasah muda
Masuk ke MA Diponegoro berarti bergabung dengan madrasah yang masih bertumbuh. Mutia bukan sekadar murid, tetapi bagian dari angkatan perintis. Banyak hal belum mapan; fasilitas belum lengkap, sistem masih dirapikan. Di tengah proses itu, ia belajar bahwa menjadi perintis artinya ikut bersabar dan berkontribusi, bukan sekadar menuntut.
Saat pelajaran jurusan dimulai, kelas IPA dan IPS bergantian menggunakan ruangan yang tersedia. Sementara kelas lain harus kreatif mencari sudut-sudut nyaman untuk belajar. Di tengah keterbatasan, justru satu kekayaan lain ditambahkan: pelajaran spiritual yang menguatkan ruh. Guru-guru tidak hanya mengajarkan materi umum, tetapi juga membimbing para santri menyeimbangkan logika dengan doa, ikhtiar dengan tawakal.

Para pendidik di madrasah hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pendamping perjalanan. Mereka menyiapkan pelajaran tambahan untuk menghadapi soal-soal masuk perguruan tinggi negeri, sekaligus membuka ruang konsultasi ketika murid bingung memilih jurusan dan kampus. Di sela padatnya jadwal, pintu diskusi seakan selalu terbuka; kegundahan remaja dirangkul dengan telinga yang mau mendengar dan nasihat yang menenangkan.
Madrasah menanamkan satu prinsip: mendahulukan hubungan dengan Tuhan sebelum urusan dunia. Nilai itu tidak berhenti di slogan, tetapi dihidupkan lewat tirakat harian—salat tahajud, salat Dhuha, dan istighatsah. Di ruang-ruang hening menjelang subuh dan pagi hari, para santri diajak memahami bahwa ilmu tanpa kedekatan dengan Sang Pemberi Ilmu hanyalah tubuh tanpa ruh.
Karakter yang ditempa pelan-pelan
Seiring waktu, Mutia menyadari bahwa pembentukan karakter tidak bisa instan. Madrasah sudah berusaha menanamkan nilai, tetapi seberapa dalam ia meresap bergantung pada kesungguhan masing-masing santri. Dengan jujur, ia mengakui bahwa dirinya kadang terbawa arus dominan di angkatan perintis, termasuk arus yang tidak selalu baik.
Meski begitu, proses tidak berhenti. Mutia melihat adik-adik kelas tumbuh dengan karakter yang menurutnya lebih matang dan lebih baik. Di sanalah ia merasakan perpaduan antara bangga dan haru: upaya madrasah ternyata mulai berbuah, meski tidak selalu tampak kasatmata. Dari situ ia belajar satu pelajaran penting: bukan madrasah yang gagal, tetapi setiap pribadi yang perlu terus mengikhtiarkan ketulusan dalam menerima nasihat dan bimbingan.
Fasilitas yang tumbuh seiring mimpi
MA Diponegoro tidak lahir dalam keadaan serba siap. Di awal, mereka masih meminjam ruangan untuk kegiatan belajar mengajar. Perlahan namun pasti, dengan kesabaran dan kerja kolektif, ketika Mutia duduk di kelas 11, madrasah akhirnya memiliki gedung sendiri. Bukan hanya bangunan yang berdiri, tetapi juga harapan yang ikut menjulang.
Ruang-ruang kosong tidak dibiarkan sepi. Kolam dan lahan yang tersedia disulap menjadi kantin dan koperasi. Halaman luas dimanfaatkan untuk belajar bercocok tanam; para santri diajak menanam sayuran yang kelak mereka konsumsi sendiri. Di balik kesederhanaan itu, tertanam pelajaran tentang kemandirian, kebersamaan, dan rasa memiliki. Madrasah selalu menyambut inisiatif santri selama membawa manfaat, karena setiap aktivitas baru adalah pengalaman hidup yang akan dikenang jauh setelah mereka lulus.
Perhatian terhadap masa depan akademik pun tidak pernah dilepas. Kunjungan promosi dari berbagai universitas dan lembaga kerja menjadi jembatan yang mengenalkan para santri pada dunia yang akan mereka masuki. Sejak kelas 10, mereka sudah “dipaksa siap” lewat berbagai try out agar akrab dengan pola soal ujian masuk PTN. Bagi sebagian, itu terasa berat. Namun bagi Mutia, kini semua itu tampak sebagai bentuk kasih sayang yang tegas: cara madrasah berkata, “Kami ingin kalian melangkah lebih jauh.”
Jalan yang mungkin bukan pilihan, tapi menjadi takdir terbaik
Hingga pada satu titik, kabar gembira datang: Mutia diterima sebagai bagian dari keluarga UPN di Fakultas Ekonomi Pembangunan. Ia mengakui, UPN bukan universitas yang sejak awal ia jadikan pilihan utama. Namun kalimat, “mungkin ini jalan yang Tuhan berikan,” perlahan berubah menjadi keyakinan. Jika pintu ini yang dibuka, berarti di sanalah kebaikan menanti.
Pelan-pelan, ia belajar menerima. Ia beradaptasi dengan lingkungan baru, dosen baru, ritme perkuliahan, dan dinamika dunia kampus. Di balik semua itu, ia menggenggam satu tekad: jangan sampai ilmu yang telah berjuta kali diusahakan sejak bangku madrasah menjadi sia-sia hanya karena hati terlambat ikhlas.
Madrasah yang tumbuh, santri yang bertumbuh
Di mata Mutia, MA Diponegoro adalah madrasah yang masih berkembang—seperti tanaman yang baru tumbuh dari benih. Dari benih lahir akar, lalu batang, kemudian daun yang menjulur ke atas. Prosesnya pelan, kadang tersendat, tetapi setiap fase menyimpan peluang untuk menjadi lebih kuat.

Teman-teman seangkatan dan seluruh keluarga madrasah ibarat pupuk yang menyuburkan. Tanpa mereka, tanaman itu mungkin tetap hidup, tetapi tidak akan setegar dan seindah sekarang. Para guru adalah air yang mengalir, membawa mineral kehidupan, mencegah tanaman kering dan layu. Di antara keduanya, madrasah terus tumbuh: menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.
Kepada adik-adik yang masih menjalani hari-hari di madrasah dan pondok, Mutia menitip pesan: ilmu itu sangat penting, tetapi jangan pernah menempatkan akhlak di bawah ilmu. Jalani setiap kegiatan dengan keikhlasan dan kepatuhan selama itu mengarah pada kebaikan. Nilai di rapor suatu hari akan berdebu di laci atau lemari, tetapi akhlak dan karakter yang terbangun akan menemani seumur hidup.
Bagi Mutia, mondok tidak lagi sekadar cara memenuhi mimpi kecil masa SD. Mondok adalah proses panjang untuk menjadi manusia yang lebih utuh: yang mengejar cita-cita setinggi mungkin, sambil tetap menundukkan hati di hadapan Sang Pencipta.Bj
