
Menembus Batas, Menumbuhkan Karakter: Langkah Santri MA Diponegoro di ADEC 2026

Tiga santri MA Diponegoro berpartisipasi dalam ajang nasional bergengsi ‘The 8th Ahmad Dahlan English Competition (ADEC)’ pada Sabtu, 11 April 2026, dengan semangat untuk mengembangkan diri dan melampaui zona nyaman.
Dengan mengusung tema ‘Breaking Boundaries: Bridging the World Through English Proficiency,’ ajang ini menjadi panggung bagi para santri untuk menunjukkan bahwa bahasa Inggris merupakan jembatan yang menghubungkan gagasan lintas batas geografis dan budaya.
Latihan Intensif di Tengah Keterbatasan Waktu
Dengan waktu persiapan yang terbatas, ketiga santri menjalani latihan intensif selama beberapa minggu terakhir. Mereka mengasah kemampuan komunikasi, memperkuat pemahaman tata bahasa, sekaligus membangun kepercayaan diri untuk tampil di depan publik.
Berada di tengah persaingan tingkat nasional tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Namun, ketiga siswa kami mampu menghadapi setiap cabang lomba, baik storytelling maupun speech, dengan penuh keyakinan dan semangat juang yang tinggi.

Pada kategori speech, Aviciena Fajriya membawakan pidato berjudul ‘The Power of the English Language: A Voice for Our Planet’, sementara Mudrikah Nur Alifaturrohmah tampil dengan ‘Mastering English: Breaking Boundaries, Choosing Our Path’. Adapun pada kategori storytelling, Husna Rofiqoh Mutmainah membawakan cerita berjudul ‘The Legend of the Thousandth Temple’.
Lebih dari sekadar kompetisi antar sekolah, ajang ini menjadi perjalanan personal bagi para peserta untuk menghadapi rasa takut dan melampaui batas diri mereka sendiri.
Kemenangan dalam Bentuk Lain: Karakter yang Terbentuk
Ketika podium belum berhasil diraih, justru karakter yang berbicara. Keberanian untuk melangkah, kerendahan hati untuk belajar, kedewasaan dalam menghargai lawan, serta keteguhan tampil di depan publik dalam bahasa asing menjadi kemenangan yang tidak kalah berharga.
Capaian ini menjadi bukti nyata dari pertumbuhan karakter mereka—sebuah proses pendewasaan yang tidak dapat diukur, apalagi digantikan, oleh trofi semata. Selaras dengan tema kompetisi, ketiga siswa tersebut telah berhasil ‘menembus batas’ (breaking boundaries), meninggalkan keraguan, rasa takut, dan kecenderungan instan yang sebelumnya membatasi diri mereka.
Jembatan Menuju Masa Depan
Kompetisi ini bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, tetapi juga investasi masa depan. Pengalaman di Universitas Ahmad Dahlan menjadi pijakan awal bagi mereka untuk berkembang sebagai warga global yang peka terhadap isu dunia dan berani menyuarakan gagasan serta perubahan.

Kami mengapresiasi dedikasi dan kerja keras yang telah mereka tunjukkan. Dalam perjalanan seorang pembelajar, tidak ada kata gagal—yang ada hanyalah proses bertumbuh. Dan hari ini, ketiga santri tersebut telah membuktikan bahwa mereka sedang berada di jalur itu.

