• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Akademik
Biochar Dosis Ganda dari Sekam: Observasi Awal Remediasi Ultisol untuk Cabai Rawit Optimal

Biochar Dosis Ganda dari Sekam: Observasi Awal Remediasi Ultisol untuk Cabai Rawit Optimal

Yogyakarta,  – Farmlab School Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro (MADIPO) Yogyakarta memulai observasi inovatif penerapan biochar sekam padi dosis ganda pada budidaya cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Proyek ini, yang masih dalam tahap inkubasi tanah dan pengukuran awal sejak Februari 2026, berpotensi menghasilkan protokol pertanian presisi yang mengubah limbah sekam padi menjadi amalan jariyah berkelanjutan.

Yati Kusrini S.Si, guru Kimia Farmlab School MADIPO, menjelaskan bahwa tanah Ultisol dan Andosol di Yogyakarta bersifat masam (pH 4,8-5,2) dengan kandungan Al³⁺ dan Fe²⁺ toksik yang sering menghambat pertumbuhan cabai rawit, komoditas hortikultura nasional. “Kami kembangkan protokol dosis ganda: 320 gram per meter persegi dua minggu sebelum tanam (H-14) untuk aktivasi mikrobioma tanah, dan 640 gram per meter persegi sehari sebelum tanam (H-0) untuk tingkatkan kapasitas tukar kation (KTK),” ujarnya.

Observasi di lahan 37 bedeng (total 314,5 m²) menggunakan desain Complete Randomized Design (CRD) dengan tiga perlakuan: kontrol (tanpa biochar), dosis tunggal 15 ton/ha, dan dosis ganda MADIPO (total 960 gram/m² atau 15 ton/ha). Pengukuran mencakup pH tanah, KTK, C-organik, tinggi tanaman, jumlah buah, serta analisis ekonomi proyeksi.

Temuan Awal Observasi: Potensi Lonjakan Fisika Tanah & Pertumbuhan

Data observasi awal menunjukkan dosis ganda berpotensi unggul. Pada perlakuan dosis ganda, pH tanah naik ke 6,2 (dari 4,9 pada kontrol), KTK mencapai 41,2 cmol/kg (dari 18,5), dan C-organik 4,1% (dari 1,8%). Tinggi tanaman cabai rawit pada 60 hari setelah tanam (HST) diproyeksikan 62,1 cm (peningkatan 37,5% dari kontrol), cabang produktif 14,2 (naik 71,1%), serta produksi 2,1 kg per bedeng (naik 75%, total 78 kg dari 37 bedeng).

Proyeksi Ekonomi Awal: Modal Rp 600 Ribu Berpotensi Balik Modal

Secara ekonomi, proyeksi awal menjanjikan: investasi Rp 600 ribu untuk 6 bagor biochar (Rp100 ribu per bagor) berpotensi untung Rp5,25 juta dengan harga jual Rp75 ribu/kg, atau ROI 875% dalam 3,5 bulan. “Mekanisme dosis ganda ini memadsorpsi racun Al³⁺, kolonisasi bakteri menguntungkan seperti Pseudomonas dan Bacillus, serta tingkatkan retensi air hingga 300%,” tambah Yati.

Kurikulum Kimia Jadi Nyata: Santri Eksperimen Langsung

Inovasi ini terintegrasi dengan kurikulum kimia Madrasah Aliyah/SMA kelas X-XII. Santri Farmlab mempelajari ikatan kimia (Ca²⁺ + CO₃²⁻ → CaCO₃ untuk penyangga pH), stoikiometri nutrisi K⁺ optimal 0,015 M, hingga kesetimbangan NH₄⁺ pada pH 6,2. Modulnya mencakup 100 istilah kimia plus praktikum biochar, selaras prinsip “Carilah ilmu walau ke negeri Cina” (HR Ibnu Majah).

Menuju Skala Besar: Apa yang Akan Terungkap di Panen Nanti?

Tujuan utama observasi ini adalah protokol optimal dosis ganda, pengukuran fisika-kimia tanah, serta modul pembelajaran agripreneur. Analisis data menggunakan ANOVA dan korelasi Pearson (r pH-produksi 0,89). “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka yang mengubahnya sendiri” (QS Ar-Ra’d:11), kutip Yati Kusrini, mengajak skalabilitas ke 2 petak lahan MADIPO tahun 2027, integrasi silabus kimia, serta riset residu biochar tahun kedua-ke-3.

Proyek ini didukung tinjauan pustaka seperti Biochar for Environmental Management (Lehmann, 2015) dan panduan Balittro 2024. Terima kasih kepada santri Farmlab yang menjadikan ilmu kimia sebagai rezeki jariyah.Bj

Bagikan berita :