• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Kesehatan
Pemanfaatan Teknologi Mikroba Bionuklir: Solusi Inovatif Pengelolaan Sampah Organik di Madrasah

Pemanfaatan Teknologi Mikroba Bionuklir: Solusi Inovatif Pengelolaan Sampah Organik di Madrasah

Pengelolaan sampah merupakan tantangan penting yang harus dihadapi oleh berbagai institusi, termasuk lembaga pendidikan seperti Madrasah Aliyah Diponegoro (MADIPO) Yogyakarta. Dalam upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan mendukung generasi masa depan, madrasah ini mengadopsi sistem pengelolaan sampah yang terstruktur mulai dari tahap pemilahan, pengumpulan, pemindahan, hingga pengolahan sampah secara inovatif.

Sampah yang dihasilkan di madrasah diklasifikasikan menjadi beberapa jenis: organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), kertas, dan residu. Fokus utama pengelolaan adalah mengubah sampah organik menjadi kompos siap pakai yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk atau media tanam. Untuk mencapai hal ini, madrasah menerapkan teknologi mutakhir berupa aktivasi mikroba bionuklir QRR21 untuk mempercepat proses pengomposan secara efektif dan efisien.

Proses pengolahan dimulai dengan pengumpulan sampah organik secara rutin setiap hari, yang disusun dan diorganisir secara sistematis. Pada akhir pekan, sampah organik tersebut mendapat perlakuan khusus dengan penyemprotan larutan mikroba bionuklir QRR21 sebagai bioaktivator yang berperan meningkatkan aktivitas mikroorganisme pengurai. Sampah yang sudah disemprot kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat (plastik kedap udara) dan dibiarkan selama minimal 18 hari. Setelah masa ini, kompos siap panen dan dapat langsung dipakai sebagai pupuk atau media tanam ramah lingkungan.

Tahapan pembuatan kompos siap pakai di Madrasah Aliyah Diponegoro meliputi:

  1. Penyiapan bahan baku sampah organik yang sudah dipilah dan dikumpulkan.
  2. Pengolahan awal seperti pencacahan atau pemotongan bahan agar mempercepat proses pembusukan.
  3. Penyemprotan larutan mikroba bionuklir QRR21, yang mengandung mikroorganisme aktif seperti Trichoderma, Mikoriza, dan Metharizium untuk mempercepat degradasi bahan organik.
  4. Pemantauan kondisi tumpukan kompos, termasuk suhu dan kelembapan agar lingkungan pengomposan ideal bagi mikroba.
  5. Panen kompos minimal setelah 18 hari, ketika kompos telah matang, berwarna coklat gelap dan tekstur remah.

Meskipun Madrasah Aliyah Diponegoro tidak berada di negara-negara yang menghadapi krisis sampah besar seperti Israel, India, atau Chad, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Sampah di sekolah-sekolah dan komunitas di Indonesia berpotensi menjadi masalah serius jika tidak dikelola dengan baik. Karenanya, MADIPO menginisiasi program madrasah hijau — lingkungan sekolah yang mendukung tumbuh kembang generasi sehat, cerdas, cemerlang, dan saleh melalui pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Teknologi mikroba bionuklir Quantum Rotan Revolusioner (QRR21) yang diaktifkan oleh Nisfi dan tim ini berhasil diaplikasikan oleh para santri sebagai bagian dari proyek pembelajaran yang menghasilkan kompos siap pakai. Inovasi ini tidak hanya mendukung kegiatan belajar, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Kompos yang dihasilkan madrasah dimanfaatkan dalam penanaman padi  di Laboratorium Sains dan Kewirausahaan MADIPO di Kadisoka Maguwoharjo Depok Sleman.Bj

Bagikan berita :