• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Acara
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia: MADIPO Menyatukan Ilmu dan Semangat Pesantren untuk Kepedulian Lingkungan

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia: MADIPO Menyatukan Ilmu dan Semangat Pesantren untuk Kepedulian Lingkungan

Seruan peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia 2025, “Ending Plastic Pollution”, menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi para santri. Kesadaran kolektif terus dibangun, sehingga santri Madrasah Aliyah Diponegoro aktif melakukan praktik baik dalam menjaga lingkungan dan mencegah polusi. Sampah di madrasah dikelola dengan sungguh-sungguh demi terciptanya lingkungan yang bersih, tertata, dan aman. Setiap pagi, setelah Istighasah, para santri saling tolong-menolong melaksanakan kegiatan life skills 5R dengan pendampingan guru.

Pada tanggal 5 Juni 2025, Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro (MADIPO) di Yogyakarta merayakan Hari Lingkungan Hidup Internasional dengan cara yang sangat inspiratif: menanam ratusan bibit pohon di lingkungan madrasah. Kegiatan ini melibatkan guru dan santri dari program sastra Inggris dan bahasa Arab FADIB UIN Sunan Kalijaga, yang bahu-membahu menanam berbagai jenis pohon keras dan buah-buahan di Kebun Sains dan Kewirausahaan madrasah.

Bibit pohon yang ditanam sangat beragam, mulai dari nangka, sirsak, trembesi, sengon, jati, kayu putih, hingga pohon taman yang mempercantik lingkungan. Total ada 2025 bibit pohon yang berasal dari donasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penanaman pohon ini tersebar di empat titik strategis, yakni jalan madrasah menuju jalan utama, lapangan madrasah, dan tentu saja di kebun sains dan kewirausahaan.

Kegiatan ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi juga sebuah aksi nyata untuk menjaga bumi. Dengan menanam pohon, MADIPO berkontribusi dalam menyerap karbon, meningkatkan kualitas mikroba tanah, dan melindungi keanekaragaman hayati di sekitar madrasah. Ini sangat penting, apalagi mengingat tema Hari Lingkungan Hidup Internasional 2025 adalah “Ending Plastic Pollution” — mengakhiri polusi plastik yang sudah menjadi ancaman global.

MADIPO tidak hanya berfokus pada penghijauan, tapi juga mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam menjaga lingkungan. Menurut ajaran Islam yang diajarkan di madrasah, menjaga lingkungan adalah kewajiban setiap muslim. Mencemari udara, air, dan tanah yang membahayakan makhluk hidup dianggap sebagai perbuatan yang dilarang keras, bahkan termasuk tindakan kriminal. Oleh karena itu, setiap santri dan guru MADIPO berkomitmen untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial.

Budaya 5R — Resik, Rawat, Rajin, Ringkas, dan Rapi — diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari di madrasah dan asrama. Santri secara aktif terlibat dalam kegiatan menyapu, memilah sampah plastik dan non-plastik, serta merapikan kelas. Kegiatan sederhana ini ternyata menjadi bagian penting dari kurikulum MADIPO, yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan bahasa, tapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan jiwa kewirausahaan santri.

Selain itu, MADIPO juga aktif mengelola sampah organik dengan membuat kompos yang digunakan untuk pertanian madrasah. Langkah ini sekaligus mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Kepala Madrasah, Bapak Fauzan, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian MADIPO terhadap bumi dan generasi masa depan. “Kami ingin menanam bukan hanya pohon, tapi juga kesadaran dan tanggung jawab lingkungan pada setiap santri,” ujarnya.

Dengan semangat kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan lingkungan seperti polusi plastik dan perubahan iklim, MADIPO membuktikan bahwa madrasah berbasis pesantren bisa menjadi pionir dalam pendidikan yang ramah lingkungan. MADIPO tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.Bj    

Bagikan berita :