• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Acara
Kajian ‘Adabul ‘Alim wal Muta’allim’: Menumbuhkan Kejujuran dan Kerendahan Hati di Pondok Diponegoro

Kajian ‘Adabul ‘Alim wal Muta’allim’: Menumbuhkan Kejujuran dan Kerendahan Hati di Pondok Diponegoro

Pada Minggu, 20 Juli 2025, aula Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro menjadi tempat berlangsungnya kajian yang sarat makna. Kegiatan yang dimulai dengan sambutan hangat berupa teh dan camilan sederhana ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan persiapan untuk membuka hati dan pikiran dalam menelaah ilmu dari para kiai.

Kajian kali ini mengangkat kitab klasik Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. KH. Zaidun, pemateri yang dikenal dengan gaya tenang namun penuh makna, menyampaikan inti kitab dengan cara yang menggetarkan. Salah satu pesan mendasarnya adalah bahwa pengakuan “saya tidak tahu” sejatinya merupakan bagian dari ilmu.

“Ucapan ‘saya tidak tahu’ itu bukan kelemahan,” tegas KH. Zaidun, “melainkan bukti kejujuran dan kerendahan hati.” Hal ini berbanding terbalik dengan kecenderungan banyak orang yang merasa harus selalu tahu segalanya, padahal mengakui ketidaktahuan justru menandai kebijaksanaan.

Lebih lanjut, KH. Zaidun membedakan empat tipe manusia berdasarkan hubungan mereka dengan ilmu. Pertama, orang yang tahu dan menyadari ilmunya—mereka adalah sosok alim. Kedua, orang yang tahu namun lalai mengamalkan ilmu. Ketiga, orang yang tidak tahu tapi sadar akan ketidaktahuannya, sehingga terbuka untuk belajar. Keempat, orang yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu—mereka yang sering merasa paling tahu namun sebenarnya kosong ilmu, dan harus dijauhi.

Setelah sesi kajian selesai, KH. Syakir Ali naik memberi nasihat tegas tetapi menenangkan. Ia mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, dari kuantitas hingga kualitas. Pendidikan, kata beliau, bukan sekadar mencerdaskan otak, tetapi juga hati dan jiwa murid. Guru-guru pun diajak untuk saling bersinergi menjadi contoh dan memperbaiki lingkungan pembelajaran. KH. Syakir mengutip dawuh dari Pak Saliman yang menegaskan agar pembangunan pendidikan selalu membawa kemajuan, terutama dalam cara memberi nilai yang mendidik dan membangun semangat siswa.

Pada sesi terakhir, Pak Jamhari, salah satu pengasuh pondok, menyampaikan kritik konstruktif. Ia mengingatkan agar prinsip “saya tidak tahu” tidak disalahgunakan oleh guru dalam menjalankan tugasnya, karena hal itu bisa menurunkan kualitas lembaga. Dalam konteks kelembagaan, pengajar harus siap mengetahui dan menjelaskan tanggung jawabnya. Peningkatan kualitas sekolah, menurutnya, sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat, yang tidak hanya bergantung pada fasilitas, melainkan juga manajemen dan semangat guru.

Sebagai penutup, peserta kajian menikmati hidangan sederhana nan menggugah selera: nasi hangat, ayam goreng, sop segar, kentang balado, kerupuk renyah, serta buah segar sebagai penutup. Es lemon manis menjadi pelepas dahaga yang pas setelah mengikuti kajian yang tidak hanya menggugah pikiran tapi juga menyentuh hati.

Hari itu bukan hanya tentang mendengarkan dan mencatat ilmu, melainkan menjadi momen refleksi bagi semua yang hadir, tentang bagaimana seharusnya bersikap sebagai pencari ilmu, sebagai pendidik, dan sebagai bagian dari sistem pendidikan yang senantiasa ingin tumbuh menjadi lebih baik.

Penulis M Zaenal SE ME

Bagikan berita :