
Mengukir Inovasi Hijau: Harmoni Sains, Lingkungan, dan Pembelajaran STEAM di MADIPO

Pada Jumat, 28 November 2025, empat santri Madrasah Aliyah Diponegoro (MADIPO)—Husna Rofiqah Mutmainnah, Siti Zahra Habibah, Nararya Akmali Zaidan, dan Nazah Lutfiyyah Fatinah—mengukir langkah inovatif melalui projek pembelajaran berbasis STEAM dengan tema pembuatan pestisida nabati ramah lingkungan. Bimbingan guru Abdul menuntun mereka mengolah bahan alami yang dipilih dengan cermat: serai, bawang putih, cabai, tembakau, daun kenikir, daun sirsak, daun pepaya, dan gadung/biji mahoni, yang masing-masing mengandung senyawa aktif pengendali hama dan penyakit tanaman. Proses kolaboratif ini tidak hanya menghadirkan pemahaman teoritis, tetapi juga praktik ilmiah yang mendalam.
Para santri secara sistematis menumbuk dan mencacah bahan, lalu mengekstraksi campuran tersebut dalam 15 liter air selama 4-5 jam dengan peralatan sederhana namun efektif. Perubahan warna menjadi coklat dan aroma harum memberikan tanda keberhasilan ekstraksi. Setelah penyaringan, produk pestisida nabati sebanyak 9 liter siap dipacking dan diajarkan cara aplikasinya, yaitu pencampuran dengan perekat dan kalsium untuk hasil optimal. Pendekatan STEAM ini menggabungkan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika, sehingga siswa terampil sekaligus kreatif dalam menghasilkan minat kewirausahaan dan solusi pertanian berkelanjutan.

Pentingnya projek ini tak hanya menyentuh ranah edukasi, tapi juga lingkungan dan masa depan bumi. Pestisida nabati yang dihasilkan memiliki keunggulan dibanding pestisida kimiawi karena ramah lingkungan, tidak meninggalkan residu berbahaya, dan aman bagi manusia. Ini sejalan dengan pesan dari para tokoh lingkungan yang mendorong kita menjaga bumi dengan solusi alami dan lestari agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Projek inovatif ini juga mencerminkan tren global, karena metode serupa sudah diterapkan di sekolah maju dunia sebagai model pembelajaran efektif dan penguatan kesadaran lingkungan.
Inovasi sederhana berbasis kearifan lokal ini memupuk kemandirian santri sekaligus menegaskan peran madrasah sebagai pusat pendidikan yang adaptif dan visioner. Dengan sumber daya terbatas, mereka mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertanian berkelanjutan dan keberlangsungan ekosistem. Cerita Husna dkk bukan hanya soal pembuatan pestisida, tapi juga inspirasi bahwa solusi hijau bisa lahir dari kolaborasi antargenerasi, ilmu pengetahuan, dan hati yang peduli bumi.Bj

