• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Akademik
Santri Luncurkan Senjata Nabati Lawan Hama Perusak Cabai Rawit

Santri Luncurkan Senjata Nabati Lawan Hama Perusak Cabai Rawit

Yogyakarta, 6 Mei 2026 – Santri Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro (MADIPO) Yogyakarta melakukan intervensi darurat pada tanaman cabai rawit kantil yang mengalami serangan hama kompleks. Aplikasi pestisida nabati (pesnab) diterapkan secara menyeluruh di lahan laboratorium sains dan kewirausahaan madrasah, Rabu (6/6).

Gejala Hama Ditemukan di Lapangan

Kelompok santri Anggun, Alifah, Arya, Ciena, Habibah, dan Una mengidentifikasi gejala serius: daun cabai mengkeret dan mengecil, semut merah berlalu-lalang di dahan dan daun, serta serangga beserta telurnya menempel rapat di daun bawah. “Temuan ini ditengarai dapat merugikan dan menghambat pertumbuhan cabai secara signifikan,” ujar Ciena.

Spray Aplikasi Pesnab Secara Menyeluruh

Santri langsung melakukan spray aplikasi pesnab pada seluruh tanaman cabai umur 25 Hari Setelah Tanam (HST). Proses penyemprotan dilakukan teliti dan cermat, memastikan setiap tanaman –terutama “bayi-bayi cabai”– tersentuh ramuan buatan santri. http://madipo.sch.id/mengukir-inovasi-hijau-harmoni-sains-lingkungan-dan-pembelajaran-steam-di-madipo/

“Rudal” untuk Usir Hama

“Pesnab ini diharapkan menjadi rudal yang membuat hama tidak nyaman sehingga lari dari tanaman cabai kami,” jelas Una. Ramuan yang diracik beberapa bulan lalu di laboratorium madrasah kini diuji ketangguhannya melawan serangan hama kompleks.

Pemantauan Intensif Dimulai

Setelah aplikasi selesai, santri memulai tahap pemantauan intensif untuk mengamati respons tanaman terhadap intervensi. “Kami akan pantau apakah gejala mengkeret berkurang dan aktivitas semut-serangga menurun,” tambah Arya.

Praktik Nyata “Manusia Bermanfaat”

Intervensi ini memaknai semangat “jadilah manusia yang bermanfaat” dalam pendidikan MADIPO. “Ilmu sains harus langsung menyelamatkan tanaman yang terancam, bukan hanya teori di kelas,” tegas Ifah.

Laboratorium MADIPO menjadi labor praktik nyata integrasi sains-agama. Santri berharap intervensi ini menjadi model agro-teknologi ramah lingkungan yang menyelamatkan produktivitas cabai di madrasah dan pesantren di Indonesia.Bj

Bagikan berita :