• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Silaturahim
Menyulam Jejak Santri: Wisata Edukasi dan Pelepasan di Dataran Tinggi Dieng

Menyulam Jejak Santri: Wisata Edukasi dan Pelepasan di Dataran Tinggi Dieng

Retreat MADIPO dalam penyegaran jiwa santri dan penguatan tali silaturahmi. Pada Selasa pagi, 27 Mei 2025, rombongan santri Madrasah Aliyah Diponegoro Yogyakarta berangkat menuju dataran tinggi Dieng, Wonosobo. Perjalanan ini bukan sekadar wisata biasa, melainkan sebuah ritual perpisahan sekaligus penguatan jiwa dan karakter yang telah mereka bina selama menuntut ilmu di pesantren. Santri putra-putri dari kelas X, XI, dan XII membawa serta harapan dan kenangan, menapaki jejak-jejak sejarah pendidikan Islam yang melekat dalam setiap langkah mereka.

Dieng, dengan kawah-kawahnya yang menggelegak dan udara pegunungan yang sejuk, menjadi latar sempurna untuk menyelami makna pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan adab. Para santri menjelajahi kebun teh yang hijau membentang, menyaksikan bagaimana alam mengajarkan kesabaran dan kerja keras. Mereka juga singgah di telaga yang tenang, tempat yang mengundang mereka untuk merenung, mengintrospeksi perjalanan spiritual dan akademik yang telah dilalui.

Salah satu momen paling berkesan adalah silaturahim di rumah Ibu Siti Salikhah S.Sos di Garung, wali santri yang menjadi bagian dari keluarga besar madrasah. Di sana, pada malam yang dingin namun penuh kehangatan, para santri dan guru berkumpul untuk merefleksikan perjalanan mereka. Dalam suasana yang penuh kejujuran dan keterbukaan, mereka berbagi cerita—tentang suka dan duka, prestasi dan kenakalan, tawa dan air mata. Akbar Arbián, mewakili santri, mengingatkan teman-temannya bahwa menjadi santri yang baik adalah sebuah proses berkelanjutan, terutama saat mereka akan kembali ke masyarakat luas, di mana adab dan akhlak menjadi bekal utama.

Malam itu menjadi panggung pengakuan dan penguatan ikatan batin antar santri dan guru. Nusyaibah dari kelas XI menyampaikan kesan mendalam kepada kakak kelas XII, “Kalian nakal, namun itu yang membuat kami merasa kehilangan. Kenakalan kalian, seperti saat kalian pergi ke Malioboro, kini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Namun, kalian juga adalah kakak-kakak yang penuh prestasi dan menjadi teladan bagi kami.” Suasana haru dan sahdu menyelimuti pertemuan itu, mencerminkan kedalaman nilai persaudaraan yang terpatri di pesantren.

Para guru pun memberikan pesan dan wasiat yang sarat makna. Mrs. Ála S.S menyerahkan cindera mata kepada seluruh santri kelas XII sebagai kenang-kenangan, sementara Ananda Muhammad Ihsan Musayffa, santri berprestasi dalam Bahasa Inggris, mendapat hadiah jaket kesayangan. Risyanto S.Ag menampilkan video “Santri adalah Masterpiece,” yang menggambarkan perjalanan kelas XII menuju santri unggul, terbaik, dan juara. Ini bukan sekadar penghargaan, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang penuh perjuangan dan pengabdian.

Malam itu, rumah Bapak Muhajir-Ibu Salikhah berubah menjadi saksi bisu ikatan kekeluargaan yang erat. Para santri tidur di rumah warga, merasakan dinginnya air pegunungan yang membangkitkan semangat pagi mereka. Saat fajar menyingsing, mereka bangun untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat subuh berjamaah, kemudian melakukan senam kebugaran sebelum melanjutkan perjalanan ke telaga. Rutinitas ini mengingatkan pada disiplin dan spiritualitas yang menjadi nafas kehidupan pesantren.

Renungan malam menjadi momen sakral bagi santri dan guru untuk saling berterima kasih, memaafkan, dan berwasiat. Dalam suasana penuh keikhlasan, segala prestasi, kenakalan, suka, dan duka menjadi benang-benang yang menyulam kain persaudaraan. Kegiatan ini bukan sekadar wisata edukasi, melainkan sebuah upaya melestarikan tradisi pesantren yang mengedepankan ilmu, adab, dan kebersamaan sebagai fondasi membangun generasi masa depan.

Ketika rombongan kembali ke Yogyakarta pada 28 Mei 2025, mereka membawa pulang bukan hanya kenangan indah dan pengalaman berharga, tetapi juga semangat dan tekad untuk meneruskan perjalanan sebagai santri sejati. Wisata edukasi dan pelepasan ini telah menorehkan babak baru dalam sejarah Madrasah Aliyah Diponegoro Yogyakarta (MADIPO), mengukuhkan bahwa pendidikan pesantren adalah perjalanan panjang penuh makna, yang menyiapkan insan bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mulia dalam akhlak dan budi pekerti.Bj

Bagikan berita :