• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Santri
MADIPO Menata Ulang Kantin untuk Menumbuhkan Kewirausahaan dan Karakter Siswa

MADIPO Menata Ulang Kantin untuk Menumbuhkan Kewirausahaan dan Karakter Siswa

Yogyakarta, — Kantin sekolah bukan sekadar tempat pemenuhan kebutuhan logistik siswa, melainkan ruang strategis untuk menyemai nilai kewirausahaan dan pembentukan karakter. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan aset ini kerap dihadapkan pada tantangan kedisiplinan, sistem operasional, hingga kendala sarana prasarana.

Fenomena tersebut menjadi sorotan utama dalam ruang dialog antara Kepala Madrasah Aliyah Diponegoro Yogyakarta (MADIPO) Fauzan Satyanegara dengan salah satu personel pendukung operasional sekolah, Aviciena Fajriya, di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 9/10/26. Diskusi mendalam ini membedah sejumlah titik lemah sekaligus merumuskan formula solutif demi optimalisasi fungsi kantin menjelang suksesi kepengurusan yang direncanakan rampung pada Desember 2026.

Evaluasi operasional

Dalam laporan lapangannya, Sena menyoroti beberapa kendala teknis yang menghambat efisiensi kerja tim piket kantin. Salah satu hambatan utama adalah tiadanya kunci pada etalase penyimpanan makanan.

”Etalase belum ada kunci, sehingga jualan tidak bisa ditinggal di dalam karena rawan hilang. Akibatnya, petugas piket harus melakukan proses bongkar-muat dan penataan ulang setiap hari,” ujar Sena.

Guna mengatasi hambatan waktu tersebut, ia mengusulkan adanya kebijakan khusus berupa dispensasi waktu. Petugas piket diharapkan mendapat izin istirahat 10 menit lebih awal untuk menata barang jualan, serta kelonggaran kembali ke kelas paling akhir setelah memastikan kantin bersih dan rapi.

Selain kendala fasilitas, aspek kedisiplinan siswa pasca-beraktivitas di kantin juga menjadi catatan kritis. Kesadaran untuk langsung mencuci peralatan setelah digunakan dinilai masih sangat rendah di kalangan siswa.

Restrukturisasi piket

Kritik tajam juga diarahkan pada efektivitas jumlah personel piket kantin. Selama ini, sistem piket melibatkan mayoritas santri secara masif, yang dinilai justru memicu tumpang-tindih tanggung jawab.

”Terlalu banyak orang yang terlibat membuat pengawasan sulit. Ada yang bertanggung jawab, ada yang tidak, sehingga operasional menjadi tidak kondusif. Idealnya, cukup dibentuk tim kecil berisi lima anak per hari yang sepenuhnya memegang tanggung jawab penuh,” tegas Sena.

Menanggapi laporan tersebut, Fauzan menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan sebagai jembatan suksesi kepengurusan. Mengingat siswa kelas XII mulai difokuskan pada persiapan ujian akhir, seperti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dan tes kompetensi akademik (TKA), pengelolaan kantin disarankan untuk dimaksimalkan oleh siswa kelas XI sebagai sarana regenerasi organisasi. Pengurus dari kelas XII nantinya hanya bertindak sebagai pengarah atau mentor.

Urgensi transparansi

Satu titik krusial yang ditemukan dalam investigasi ini adalah lemahnya transparansi administratif pada masa transisi kepengurusan sebelumnya, khususnya saat penyerahan estafet kepemimpinan ke koordinator baru, Niswi. Dokumen riil mengenai progres transaksi keuangan dan laporan perkembangan koperasi kantin dinilai tidak jelas dan sulit diakses oleh pihak luar pengurus inti.

Menyikapi hal ini, Fauzan menegaskan akan segera melakukan pemanggilan dan advokasi kepada struktur pengurus inti—yang saat ini digawangi oleh Gozi, Husna, Rayan, Alifah, dan Niswi—melalui koordinasi dengan pembina madrasah, Gindo.

”Kita sedang merintis awal, jadi kekurangan yang terbaca harus segera diperbaiki. Pengurus inti harus mampu menelurkan laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang jelas dan akuntabel. Serah terima jabatan ke pengurus berikutnya harus jauh lebih baik dari angkatan sebelumnya,” ungkap Fauzan.

Penguatan karakter

Di akhir dialog, disepakati sebuah skema kerja sama operasional mandiri (kontrak swadaya) untuk menjaga kebersihan wilayah kantin dengan menerapkan prinsip 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin), serta bebas dari sampah plastik. Langkah praktis ini juga didukung oleh pemeliharaan fasilitas lapangan oleh petugas kebersihan sekolah, Sukam.

Bagi manajemen madrasah, program pembenahan kantin ini bukan sekadar urusan niaga, melainkan laboratorium hidup untuk menanamkan lima sifat utama pada diri siswa, yakni amanah (terpercaya), siddiq (jujur), fatonah (cerdas), tabligh (menyampaikan), adil dan disiplin (istiqamah). Pihak madrasah berharap, lewat pengelolaan kantin yang profesional, siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam aspek moral dan kewirausahaan.Bj

Bagikan berita :