
Menembus Dinding PTN: MA Diponegoro Menata Nalar Siswa sejak di Kelas
Menembus ketatnya persaingan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak lagi bisa mengandalkan bimbingan belajar instan di akhir tahun kelulusan. Menyadari hal itu, Madrasah Aliyah (MA) Diponegoro mengambil langkah berani dengan merombak total ekosistem evaluasi dari dalam ruang kelas. Melalui forum Professional Learning Community (PLC) yang digelar Kamis (11/11/2026), seluruh tenaga pendidik digembleng untuk menguasai metodologi penyusunan soal berbasis Tes Kemampuan Akademik (TKA) demi mengasah ketajaman nalar siswa sejak dini.
Pemateri utama, guru Kimia MA Diponegoro Yati Kusrini, S.Si., memaparkan teknik konstruksi instrumen penilaian berstandar nasional. Ia menekankan pergeseran paradigma evaluasi dari pengujian hafalan tekstual menuju penguatan daya nalar kritis dan komprehensif.

“Melalui instrumen soal yang dirancang secara presisi, kita sedang mengondisikan peserta didik untuk memiliki habituasi belajar yang mendalam. Ini merupakan proyeksi jangka panjang agar mereka tidak sekadar siap menghadapi seleksi perguruan tinggi seperti UTBK, melainkan juga memiliki ketahanan akademik yang kuat di jenjang pendidikan tinggi,” ujar Yati.
Ia menambahkan bahwa melalui ikhtiar terstruktur, termasuk pelaksanaan pelatihan ini, MA Diponegoro menargetkan 70 persen siswa kelas 12 lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pada tahun ini.

Secara konseptual, PLC merupakan wadah kolaborasi guru untuk saling berbagi pengetahuan, merefleksikan praktik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. Dalam forum tersebut, guru dibekali prinsip penyusunan soal TKA yang ideal: menggunakan stimulus kontekstual yang valid, objektif, adil, dan bebas ambiguitas. Distribusi soal juga harus proporsional pada beragam level kognitif, mulai dari pemahaman, aplikasi, hingga penalaran tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Guru juga diperkenalkan pada format mutakhir, termasuk Pilihan Ganda Kompleks dan respons Benar/Salah.
Kepala MA Diponegoro, Fauzan Satyanegara, menegaskan bahwa PLC merupakan wujud nyata ikhtiar madrasah dalam merespons perubahan zaman secara bijaksana.
“Pendidikan yang unggul hanya dapat dilahirkan oleh rahim pendidik yang memiliki komitmen tanpa batas untuk terus merevitalisasi kapasitas dirinya. Forum PLC ini menjadi jembatan emas untuk mengintegrasikan ketajaman pedagogi dan kedalaman kompetensi profesional guru kita. Mutu kelulusan tidak hadir secara instan, melainkan melalui desain ekosistem pembelajaran yang relevan, berdampak, dan visioner,” tuturnya.

Fauzan menegaskan bahwa pelatihan yang diisi guru Kimia ini hanyalah awal dari transformasi berkelanjutan. Ke depan, seluruh tenaga pendidik diharapkan siap berbagi dan mengimbaskan keahlian spesifiknya dalam ruang kolaboratif yang sama.
Manajer Kurikulum dan KBM MA Diponegoro, Muhamad Yunus, menegaskan bahwa standardisasi instrumen ujian internal penting untuk memangkas ketimpangan kualitas penilaian. Manajemen menetapkan target ketat: setiap guru memproduksi minimal lima butir soal berstandar TKA per pekan. Seluruh draf akan dikurasi berkala hingga mencapai koleksi minimal 25 butir soal siap uji pada Desember mendatang.
“Langkah taktis dan terstruktur ini harus dikawal bersama demi mendongkrak mutu pendidikan di MA Diponegoro secara berkelanjutan,” tegas Yunus.Bj
