• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Kerjasama
Aktualisasi Kepemimpinan Gen-Z: Saat Santri Madipo Mengawal Amanat PBNU

Aktualisasi Kepemimpinan Gen-Z: Saat Santri Madipo Mengawal Amanat PBNU

SEMBEGO – Suara lantang Dzakiyya Talita Sakhi memecah keheningan Lapangan Utama Yayasan Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro (Yasandip), Depok, Kamis (22/10). Siswi kelas XI ini berdiri tegak memimpin jalannya Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kapanewon Depok.

Upacara tahun ini menjadi panggung pembuktian bagi santri Generasi Z. Seluruh posisi krusial diambil alih oleh para santri muda sebagai bentuk aktualisasi estafet kepemimpinan masa depan.

Kekompakan barisan terjaga rapi di bawah komando tiga pemimpin pleton: Hasan Sholahudin (XI), Ghozi Ikbar Jamalullail (XII), dan Abdul Hanif Al Azam (XI). Di tengah lapangan, langkah sinkron tim pengibar bendera yang digawangi Daffa Maulana Al Fathir (XII), Aviciena Fajriya (XII), dan Muhammad Fadhil Ramadan (XI) sukses mengantarkan Merah Putih membumbung tinggi, diiringi lagu kebangsaan yang dipandu secara anggun oleh dirigen Dewi Setyo Asih (XI).

Kepala Madrasah Aliyah Diponegoro (Madipo), Fauzan Satyanegara mengapresiasi mental baja anak-anak didiknya. “Mampu mengemban tanggung jawab besar ini secara presisi adalah bukti nyata keberhasilan pendidikan karakter. Mereka bukan sekadar santri yang mengaji di kelas, melainkan calon pemimpin bangsa yang disiplin dan kokoh secara moral,” tegasnya bangga.

Suasana sakral memuncak saat lembaran sejarah dibacakan. Nararya Akmali Zaidan (XI) mengawal naskah Pancasila, disusul Nabila Tusyifa Tumajid (XI) yang membacakan Pembukaan UUD 1945. Suara Ibnu Sina Ramadan Mubarak (XI) kemudian menggema lantang membacakan naskah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, disusul pembacaan Ikrar Santri oleh Anggun Sinta Mawar Sari (XI).

Semangat heroisme tersebut berkelindan dengan amanat resmi PBNU bertema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” yang dibacakan oleh Pembina Upacara, Drs. KH. Jambari. Ia menguraikan kembali rekam jejak Fatwa Jihad Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945 yang menyatakan membela tanah air adalah fardhu ‘ain.

Menukil kitab Qanun Asasi, KH. Jambari menyitir perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa persatuan jauh lebih berharga dibanding kekuatan material semata. “Allah tidak pernah memberi kebaikan melalui perpecahan. Dengan persatuan, negara menjadi makmur dan peradaban maju,” kutipnya.

KH. Jambari menegaskan bahwa medan jihad santri hari ini telah bergeser dari angkat senjata ke medan intelektual dan sosial. “Jihad Gen-Z hari ini adalah mengatasi kemiskinan, kebodohan, kerusakan lingkungan, hingga korupsi. Santri harus menjadi cultural brokeryang memadukan nilai tradisi dan modernitas demi menjaga kesatuan NKRI,” lanjutnya, sebelum upacara ditutup khidmat dengan doa oleh Rofiq Anwar, M.B.A.

Di balik layar, kelancaran acara yang dipandu duet Protokoler Drs. H. Muh. Khoirudin dan MC Nisfie Lailina Noor Hidayah (XII) ini dikawal ketat oleh Trei Ilham Supawi M.Hum, Ardiani Nur Fadhila, S.Pd., M.A., dan dewan guru.

Keberhasilan perhelatan HSN 2026 ini menjadi potret nyata sinergi kokoh keluarga besar Nahdlatul Ulama di Kapanewon Depok, mulai dari jajaran MWC NU, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga Muslimat NU. Sebagai motor syiar digital, kolaborasi Tim Media Diponegoro dan Divisi Informasi Komunikasi Yasandip lincah mengemas setiap momen estetik upacara, memastikan pesan Resolusi Jihad hari itu melesat kuat menginspirasi ruang publik virtual.Bj

Bagikan berita :