
Mengaji Hadis Rasa Laboratorium: Cara Santri Hidupkan Nilai Nubuwah
SEMBEGO — Matahari sudah condong ke barat di kawasan Sembego. Jarum jam beranjak setelah waktu salat Asar. Namun, sebuah ruang kelas di Madrasah Aliyah Diponegoro Yogyakarta (MADIPO) justru baru saja memulai denyut nadinya yang paling hidup.

Sore itu, puluhan santri dari kelas X, XI, dan XII duduk bersila dengan takzim. Di hadapan mereka, lembaran kitab kuning terbuka lebar. Tangan-tangan muda mereka sigap memegang pena, siap menorehkan makna di sela-sela baris tulisan Arab gundul.
“Bismillahir rahmanir rahim…”
Suara berat Prof. Dr. apt. Kiyai Abdul Rohman, M.Si. mulai menggema. Mengalir lah tradisi bandongan. Sang kiai membaca teks khazanah klasik, menerjemahkan kata demi kata, lalu membedah maknanya secara mendalam. Di saat bersamaan, para santri menyimak dengan tatapan lurus, mencatat setiap penjelasan tanpa ada yang terlewat.
Kitab yang dikaji sore itu bukan kitab sembarangan. Bulūgh al-Marām min Adillat al-Ahkām, karya legendaris Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang merangkum ribuan hadis hukum Islam.
Menariknya, pengajian rutin setiap Rabu ini tidak berjalan kaku. Kiyai Abdul Rohman bukan sekadar ulama biasa. Beliau juga seorang ilmuwan kimia. Kolaborasi keilmuan ini melahirkan pendekatan mengaji yang unik.
Saat membedah hadis, Abdul Rohman tidak hanya menguliti aspek hukum fikih Syafiiyah. Beliau juga membedah anatomi kalimat lewat kaidah nahwu dan sharaf. Kombinasi unik ini memaksa para santri untuk berpikir teliti, runtut, dan rasional. Persis seperti cara kerja seorang ilmuwan di laboratorium.

Untuk memperkaya cakrawala santri, Abdul Rohman juga melahap kitab-kitab syarah pendamping. Di antaranya Fath Dzī al-Jalāli wa al-Ikrām dan Al-Badr at-Tamām. Langkah ini sengaja diambil agar para santri terbiasa melihat perbedaan sudut pandang ulama secara bijaksana. Fikih tidak lagi dipandang sebagai ritual ibadah yang kaku, melainkan panduan hidup yang mencakup relasi sosial, keluarga, peradilan, hingga tanggung jawab kemanusiaan.
Sore kian melarut. Rasa penat setelah seharian mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) tentu menjadi tantangan berat. Apalagi ini adalah jam terakhir. Namun, pemandangan lesu sama sekali tidak tampak di ruangan tersebut.
Jibril, santri kelas XI berusia 15 tahun, tampak duduk tegak di barisan depan. Matanya berbinar, fokus menyimak untaian kalimat gurunya. Begitu pula dengan Anggun dan Dea. Mereka bertiga, bersama puluhan santri lainnya, seperti lupa pada rasa lelah yang menggelayuti pundak.
Bagi mereka, lembaran Bulughul Maram bukan sekadar deretan teks masa lalu yang usang. Kitab itu adalah kompas penuntun jalan untuk menghidupkan nilai-nilai nubuwah di era modern. Ada dahaga ilmu yang melampaui rasa penat di penghujung hari.

Melalui pengajian rutin ini, MADIPO sukses mengawinkan tradisi pesantren dengan kurikulum nasional. Sebuah formula kokoh yang melahirkan generasi santri yang literat bahasa Arab, berwawasan Islam klasik, sekaligus bernalar kritis dan berbenteng moral kuat dalam menghadapi gempuran zaman.
Sore hari di Sembego boleh saja berangsur gelap. Namun, binar semangat di mata para santri MADIPO tidak akan pernah surut demi merengkuh warisan suci sang Nabi.Bj
