• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Santri
Ngaji Kitab Kuning Tidak Sulit, Memperhatikan Menjadi Sebab Peroleh Pemahaman

Ngaji Kitab Kuning Tidak Sulit, Memperhatikan Menjadi Sebab Peroleh Pemahaman

Bagikan berita :

Pesan kiyai sederhana dan benar adanya. Orang yang istiqamah “ngaji insya Allah hidupnya aji”. Demikian dawuh kyai-kyai sepuh yang selalu terngiang bahkan hingga mau boyongpun tetap diberi pesan, “jangan sampai meninggalkan ngaji,” karena letak kemuliaan thalibul ilmi (seorang pencari ilmu) itu ada dalam ngaji (Matan Ta’lim, Hal 16).

Oleh Karena itu, para kyai dan ulama walau sudah alim allamah (sangat dalam keilmuannya) dan punya pesantren tetep ngaku santri atau thalib. Sehingga muncul baju bertulis مازلت طالبا (Saya selamanya Santri).

Kyai Sahal Mahfudz adalah salah satu kyai yang sangat gemar membaca, atau kata lain “kutu buku.” Beliau pernah dawuh, “Seseorang dianggap bodoh, ketika berhenti membaca”. Berkaitan dengan dawuh ini, ada yang menyampaikan, “Seseorang dianggap santri, jika masih mau mengaji”.

Ngaji biasanya dengan sistem sorogan atau bandongan. Pada model bandongan santri membawa kita mendengarkan, mencatat atau ngesahi kitab. Nagji merupakan aktivitas ibadah penting yang membutuhkan olah fikir, olah zikir, dan pula olah raga. Ngaji menyemai pengetahuan, meminta ridla Allah, dan pula membutuhkan kesiapan emosi dan kesehatan badan.

Bersama kiyai santri-santri MA Diponegoro Yogyakarta mempelajari ilmu Al-Qurán, Hadis, Fiqh, ilmu tauhid, ilmu akhlak dan kitab-kitab klasik Islam lainya. Jadwal ngaji santri di waktu-waktu utama istiwa. Yaitu sebelum Maghrib, ba’da Maghrib, ba’da Isya, dan ba’da Subuh. Waktu-waktu tersebut sangat berharga bagi warga pesantren.

Disela-sela mengikuti pembelajaran di sekolah Gadizza Alkhalifa dan Abdurrasyid Musthafa Siregar (keas X MA DiponegoroYogyakarta) menceritakan pengalamnya lika-liku ngaji di pesantren Pangeran Diponegoro Sembego Maguwoharjo.

Rasyid di pesantren mengikuti ngaji kitab-kitab turat diantaranya yaitu Ta’limul Muta’allim, Muhtarul Ahadits, Taqrib dll. Terkadang rasa kantuk tak bisa dihidari, namun saya tetap ikut. Meski sampai tertidur pak yai tidak memarahi. Jadi saya tenang dan senang. Pesan pak kiyai, tidak paham sekarang tidak mengapa, suatu saat akan paham.

Meski harus jalan kaki beberapa menit ke majlis ngaji, saya jalani saja, dari asrama ke aula pondok sembari jalan pagi dapat menikmati udara segar. Saya yakin ilmu yang saya pelajari kelak bermanfaa. Aku Rasyid asal Godean Sleman Yogyakarta.

Gadizza Alkhalifa (15) baru kali pertama mondok dan sekolah. Dizza baru beberapa waktu mengikuti pendidikan di pesantren. Alhamdulillah lancar-lancar saja. Saya bisa mengikuti kegiatan-demi kegiatan, sore malam pagi dst.

Saya baru kali pertama mondok dan mengaji kitab kuning. Saya ingin memperdalam, meski tidak mudah membacanya. Jika memperhatikan, dikemudian hari niscaya bisa membacanya dan memahami isinya. Demikian santri asal Tangerang ini meyakini benar nasehat pak kiyai.

Kontributor, Muhammad Zaidun Al Khadirin Lc., M.Hum

Bagikan berita :
Ada Pertanyaan,
Silakan WA kami..