• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Acara
Sukses-Gagal Adalah Cara Allah Menyayangi Kita: Wejangan Keseimbangan Usul-Furu’ bagi Santri Akhir Tahun

Sukses-Gagal Adalah Cara Allah Menyayangi Kita: Wejangan Keseimbangan Usul-Furu’ bagi Santri Akhir Tahun

“Sukses atau gagal, itu semua cara Allah menyayangi kita.” Kalimat itu menggema dari TG. Ahmad Rafiq, Ph.D., dalam mauidhoh hasanah di Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, Ahad (17/5/2026).

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,” begitu kalimat yang ia gagaskan di awal tausiah. Bukan sekadar bacaan salat, menurut TG. Ahmad Rafiq, kalimat itu adalah pengingat penting: manusia hanya bisa berusaha, hasil sepenuhnya milik Allah SWT. Karena itu, berhasil atau gagal bukan akhir segalanya, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

“Kadang kita gagal bukan karena Allah menjauh, justru karena Allah sedang mengajari kita: yang punya kuasa itu Dia, bukan kita.” Inti pesan itu terngiang di ruangan. Dengan cara pandang itu, seseorang diajak tetap tenang saat tidak diterima, dan tetap rendah hati saat berhasil meraih sesuatu.

Dalam penjelasannya, TG. Ahmad Rafiq mengutip pembagian ilmu menurut Imam An-Nawawi yang terdiri atas ilmu usul (pokok) dan furu’ (cabang). Ilmu usul menyangkut perkara mendasar seperti keimanan kepada Allah, Nabi, dan hari akhir. Sementara itu, ilmu furu’ berkaitan dengan ibadah praktis dan kehidupan sehari-hari. Keduanya, tutur beliau, harus berjalan seimbang agar seseorang tidak hanya paham aturan, tetapi juga mengerti arah hidup.

Ia menegaskan bahwa ibadah tidak cukup dipahami secara fikih semata. Seorang muslim juga perlu memahami kehidupan dengan bijak, termasuk soal adab, kepantasan, dan cara bersikap di tengah masyarakat. Dari sinilah, ilmu tidak berhenti pada benar-salah secara hukum, tetapi juga tumbuh menjadi kebijaksanaan dalam menjalani hidup.

Pesan berikutnya adalah tentang akhlak. Menurutnya, akhlak mulia bukan hanya terlihat dari sikap kepada orang tua dan guru, tetapi juga kepada teman, lingkungan, dan alam sekitar. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghormati sesama merupakan bagian dari akhlak yang harus terus dijaga.

Ia juga mengingatkan pentingnya belajar dari orang-orang terdahulu. Menurutnya, hidup tidak boleh dijalani sendirian seolah dunia dimulai dari diri sendiri. Santri perlu membaca pengalaman para ulama, melihat keteladanan mereka, dan memilih pergaulan yang baik. Sebab teman dan lingkungan akan sangat menentukan arah perjalanan hidup seseorang.

“Ijazah untuk kalian amalkan, rajin-rajin kirim fatihah buat guru dan orang tua, absen guru setiap bada maghrib,” pesannya.

Sebagai penutup, TG. Ahmad Rafiq memberikan ijazah zikir harian agar diamalkan para santri, yaitu:

“Amantu billahilwahidil ahadil haq wahdahu lasyarikalah, wakafartu bima siwaka.”

Zikir ini, katanya, adalah pengikat perjalanan hidup. Ia bercerita bahwa semula ia sendiri tidak paham makna doa ini. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika perjalanan ilmu, sekolah, dan pekerjaan membuatnya kadang lupa kepada Allah, ia menyadari bahwa zikir inilah yang terus mengikat. “Apapun capaian kita, di situ ada Allah SWT,” ujarnya.

Menjelang akhir tausiah, ia menitipkan pesan mendalam yang menyentuh sanubari para alumni. Sekecil apa pun pencapaian yang kelak diraih, jangan sekali-kali meluruhkan rasa hormat pada jasa guru dan orang tua. Doa untuk mereka, tegasnya, harus terus mengalir tanpa putus, sebab di sanalah kunci utama agar ilmu yang direngguk menjelma berkah dan memberi kemaslahatan.

Pada akhirnya, tausiah tersebut menitipkan satu pesan kunci: keberhasilan hidup bukanlah semata hasil jerih payah manusia, melainkan buah dari pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, para santri diajak untuk konsisten menjaga keempat hal tersebut—yang sarat akan makna penghambaan dan permohonan petunjuk dalam Surah Al-Fatihah—sebagai bekal utama mengarungi kehidupan di luar pesantren.Bj

Bagikan berita :