• 0811-3201-0001
  • madipoyk@gmail.com
  • Maguwoharjo, Yogyakarta
Pelatihan
The Madipo Way: English Week Festival MA Diponegoro Yogyakarta Latih Spontanitas Bicara Siswa

The Madipo Way: English Week Festival MA Diponegoro Yogyakarta Latih Spontanitas Bicara Siswa

Bahasa Inggris tidak selalu hadir sebagai pelajaran yang membuat siswa tegang. Di kompleks Madrasah Aliyah Diponegoro Yogyakarta, bahasa itu justru terdengar melalui tawa, percakapan, dan suara siswa yang saling bersahutan. Suasana tersebut mewarnai pelaksanaan English Week Festival, ketika grammar dan kosakata dipraktikkan melalui berbagai kegiatan yang interaktif dan menyenangkan.

Selama lima hari penuh, tepatnya pada 14–18 September 2026, madrasah ini menyulap lingkungan sekolah menjadi panggung interaktif melalui gelaran English Week Festival. Lewat pendekatan berbasis percakapan yang dikemas dalam permainan edukatif, para siswa diajak mendobrak dinding kecemasan dan membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa internasional.

“Pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup hanya dilakukan melalui penjelasan teori. Siswa perlu memperoleh kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membuat mereka takut melakukan kesalahan,” ujar Fauzan Satyanegara, Kepala MA Diponegoro Yogyakarta.

Mengubah Ruang Kelas Menjadi Ruang Komunikasi

Festival ini dirancang sebagai langkah konkret madrasah untuk mengubah paradigma belajar bahasa Inggris yang semula berpusat pada teori (teacher-centered) menjadi aktivitas yang aplikatif dan komunikatif. Di sini, kesalahan pelafalan atau tata bahasa bukan lagi hal tabu yang memalukan, melainkan bagian alami dari proses belajar.

Agar materi terasa dekat dan relevan, kurikulum festival disusun berdasarkan situasi kehidupan sehari-hari para siswa. Guru pengampu sekaligus Ketua Pelaksana Kegiatan, Ardiani Nur Fadhila, S.Pd., M.A., membedah rumus-rumus bahasa Inggris ke dalam lima tema santai yang akrab dengan dunia remaja:

Daily Routine and Habits: Mengupas tuntas Simple Present Tense lewat aktivitas harian siswa. Music and Vibe: Menyelami Present Continuous Tense sambil mengeksplorasi tren musik favorit. Money: Membahas konsep finansial dan transaksi sehari-hari dalam bahasa Inggris. Childhood: Menghidupkan kembali memori masa kecil menggunakan Simple Past Tense. Weekend Chill and Hobbies: Merencanakan masa depan dan hobi lewat materi Future Forms.

Melalui klaster tema ini, siswa tidak hanya pasif mendengarkan, tetapi dituntut aktif menyampaikan gagasan, merespons pertanyaan, berkolaborasi dalam tim, hingga mengambil keputusan cepat—semuanya wajib disampaikan dalam bahasa Inggris.

Saat Belajar Terasa Seperti Bermain

Kunci utama cairnya suasana dalam English Week Festival terletak pada deretan permainan edukatif yang dirancang secara apik oleh Koordinator Kegiatan, Ahmad Hafidhuddin, A.M., S.Pd. Didukung oleh tim fasilitator yang terdiri dari Himmatul ‘Ulya, S.Pd. dan Ika Setyaningrum, S.Pd., para siswa ditantang menyelesaikan berbagai permainan kelompok yang memicu adrenalin.

Beberapa permainan yang menjadi primadona di antaranya adalah Guess the Emoji, game pilihan cepat A or B? atau True or False, Word Search, tebak nada di Out of Tune, permainan gerak tubuh Charades, hingga tantangan daya ingat Rewind: Remember-Write-Win!.

Permainan-permainan ini sukses memancing kosakata dan ungkapan bahasa Inggris keluar secara spontan dari mulut siswa. Ketika mereka fokus memenangkan permainan, rasa takut salah mendadak hilang digantikan oleh insting berkomunikasi.

“Ketika materi disampaikan melalui permainan, siswa terlihat lebih berani mencoba. Mereka juga lebih mudah mengingat kosakata dan pola kalimat karena langsung menggunakannya dalam kegiatan,” ungkap perwakilan tim fasilitator acara mengenai atmosfer positif selama kompetisi berlangsung.

Merawat Tradisi, Menatap Global

Meski nuansa bahasa Inggris begitu kental, MA Diponegoro tetap menjaga keseimbangan karakter spiritual santrinya. Di sela-sela aktivitas bahasa, agenda festival tetap diisi dengan kegiatan khas madrasah seperti istighotsah, salat berjamaah, dan aksi kebersihan lingkungan bersama. Keseruan festival ini akhirnya mencapai puncaknya pada hari terakhir lewat panggung final bertajuk “MADIPO 100” yang sekaligus menutup rangkaian acara dengan meriah.

Bagi penanggung jawab kegiatan, Fauzan Satyanegara agenda yang sukses ini bukanlah sekadar program musiman atau pemenuh kalender akademik tahunan. Ada visi besar jangka panjang yang sedang ditanamkan. Festival ini menjadi batu pijakan awal untuk membangun English speaking environment atau budaya komunikasi bahasa Inggris yang konsisten di lingkungan madrasah.

Di era digital, penguasaan bahasa Inggris dinilai menjadi kunci vital untuk membuka akses siswa terhadap informasi global, perkembangan teknologi, serta peluang pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi terbaik. Melalui pembiasaan yang bertahap, konsisten, dan ramah terhadap proses belajar siswa, MA Diponegoro Yogyakarta optimis dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cakap dan berani tampil di kancah dunia internasional.Bj

 

Bagikan berita :