
MA Diponegoro Perkuat Branding dan Sinergi di Tengah Persaingan Pendidikan
Pagi itu, aroma kopi dan udara sejuk pegunungan Merapi menyelimuti ruangan pertemuan di Kopi Luwak Merapi, Turi. Bukan sekadar agenda rutin, rapat kerja dan laporan pertanggungjawaban (LPJ) Tahun 2025/2026 Madrasah Aliyah (MA) Diponegoro menjadi momentum refleksi, silaturahmi, dan penguatan sinergi untuk tahun ajaran 2026/2027.
Hadir Pengawas Madrasah Nur Wahyudin Al Azis, M.Pd, Perwakilan Yayasan Diponegoro Drs. H. Muh Khoirudin, serta jajaran guru dan staf. Para tamu menekankan pentingnya branding, kualitas pembelajaran, dan transparansi keuangan sebagai kunci daya tarik di tengah persaingan pendidikan.
Branding Jadi Prioritas
Azis menyoroti pengalaman MAN 3 Sleman yang kehilangan siswa setelah berganti nama dari PGA menjadi MA. “Kita harus membuat masyarakat tertarik masuk Madrasah Aliyah,” ujarnya.
Ia menyarankan madrasah memiliki nilai jual jelas, seperti garansi kebermanfaatan lulusan. “Ammanatul Ummah Pacet menjamin siswanya lolos ke Timur Tengah. Itu contoh,” jelasnya. Promosi PPDB juga harus berlangsung sepanjang tahun dengan kombinasi strategi tradisional dan digital.
“Jangan terima siswa di semester 2 kelas 12. Statistika ANBK memengaruhi kelolosan SNBP,” tegasnya. Program seperti pelatihan Canva dan solusi TKA bisa menjadi branding bahwa MA Diponegoro memiliki metode smart yang khas.
Refleksi Kinerja
Waka Kurikulum melaporkan 30 dari 34 program (88%) telah terlaksana. “Tidak ada jam kosong. Siswa tetap di kelas, diisi materi bermakna,” ujarnya. Yang belum terlaksana: buku antologi guru.
Waka Kesiswaan mengakui program sholat berjamaah belum konsisten. “Pendataan siswa dan kartu pelajar belum selesai,” ungkapnya. Namun, pembinaan organisasi santri, monitoring sholat, pendampingan lomba, dan festival siswa telah berjalan baik.
Waka Sarana Prasarana melaporkan renovasi laboratorium terkendala anggaran. “Piket kebersihan bentrok jadwal,” jelasnya. Namun, absensi digital untuk siswa dan guru sudah terintegrasi dengan gaji.
Tata Kelola Keuangan
Bendahara menyoroti disiplin pengumpulan bukti LPJ. “Pelaporan BOS belum optimal karena koordinasi kurang lancar,” ujarnya. Dana infaq perlu dicatat terpisah untuk fasilitas MA atau pondok.
Pak Risyanto menyarankan tim khusus BOSNAS dan BOSDA. “Akses BOSNAS hanya dua akun: bendahara dan kepala madrasah,” jelasnya. Ia mendorong keterlibatan kepala madrasah, bendahara, wali murid, dan komite dalam pengelolaan keuangan.
Inovasi: MADIPO Fest
Pak Rofiq mengusulkan MADIPO Fest sebagai kegiatan tahunan untuk promosi dan identitas madrasah. “Kita bisa buat kurikulum sendiri dengan ujian Bahasa Indonesia, Inggris, dan Matematika,” ujarnya.
“Media sosial dan website memberikan nilai plus,” tambahnya. Boarding experience juga harus ditingkatkan sebagai keunggulan, mengingat integrasi dengan pondok.
Komitmen Bersama
Peserta menyepakati pembentukan tim untuk branding, kurikulum, keuangan, sarana, kesiswaan, dan digitalisasi. Target: akhir Mei 2026 untuk tim, Juni untuk RAB, Juli 2026 untuk implementasi.
“Merefleksi kinerja, memperkuat silaturahmi, dan menguatkan sinergi,” demikian komitmen bersama—sebuah janji untuk masa depan lebih cerah bagi setiap siswa yang melangkah keluar dari gerbang madrasah. Bj
