
Di Tengah Arus Modernisasi, MA Diponegoro Pilih Kokohkan Basis Spiritual Santri
SEMBEGO — Di tengah disrupsi dan derasnya arus modernisasi dunia pendidikan, Madrasah Aliyah (MA) Diponegoro Yogyakarta memilih jalan untuk memperkokoh basis spiritual sekaligus karakter sosial para didiknya. Melalui rutinitas Istighasah Pagi, madrasah ini berupaya mengintegrasikan ketajaman berpikir dengan ketenangan hati sebelum memulai aktivitas pembelajaran klasikal.

Waktu tiga tahun di jenjang madrasah dinilai berjalan sangat cepat. Oleh karena itu, persiapan santri dalam menjemput cita-cita tidak sekadar bertumpu pada pencapaian akademik formal, melainkan juga lewat penempaan batin yang konsisten.
Suasana khidmat terasa di halaman madrasah pada Senin (10/8/2026) pagi. Ratusan santri duduk bersimpuh melantunkan rangkaian Aurad, zikir Asmaul Husna, Surah Yasin, hingga Surah Az-Zumar. Pembiasaan ini merujuk pada laku spiritual yang tertuang dalam Kitab Suci Al Quran Surah Al-Anfal ayat 9 mengenai pentingnya memohon pertolongan di masa-masa krusial. Tradisi spiritual ini diyakini memberikan dampak psikologis positif berupa ketenangan jiwa, ketajaman kecerdasan, hingga kematangan spiritual (spiritual maturity).
Wakil Kepala MA Diponegoro, Ahmad Hafiduddin A.M., S.Pd., yang memimpin langsung jalannya istighasah, menekankan pentingnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik bagi generasi muda. Menurut dia, segala bentuk ikhtiar belajar setiap hari harus disempurnakan dengan doa penyerahan diri yang kuat.

“Allah mencintai setiap hamba-Nya yang memiliki cita-cita tinggi. Jangan sampai santri kalah sebelum bertanding akibat memiliki cita-cita yang rendah,” ujar Didin saat memberikan taklimat di hadapan para santri.
Didin menegaskan bahwa ketangguhan mental dan mimpi yang tinggi harus selalu “dilangitkan” atau diikhtiarkan setiap hari. Hal tersebut menjadi pengejawantahan dari esensi kurikulum MA Diponegoro yang berlandaskan pada prinsip membangun keselarasan antara raga dan jiwa santri. Filosofi “ngaji dulu, ikhtiar kemudian, selebihnya biar Allah yang menyempurnakan” menjadi pilar utama ekosistem pendidikan di sini.
Kesalehan Ekologis
Menariknya, pendidikan karakter di MA Diponegoro tidak berhenti pada pemenuhan kesalehan ritual di atas sajadah. Seusai kegiatan zikir bersama, para santri langsung diarahkan untuk melakukan aksi nyata dalam merawat dan menjaga kelestarian lingkungan madrasah.
Latihan ini dirancang secara sistematis agar para santri tumbuh menjadi pribadi yang terampil, adaptif, serta memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan alam semesta di bumi tempat mereka bernaung.
Sinergi antara dimensi transendental (zikir pagi) dan sosial-ekologis (peduli alam) ini diharapkan membawa berkah bagi keluarga besar MA Diponegoro. Melalui pendekatan holistik tersebut, madrasah berikhtiar melahirkan generasi transformatif yang unggul secara intelektual, serta mampu mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis, makmur, dan berkeadilan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).Bj
