
Panen Ketiga Cabai Kantil: Saat Lahan Pertanian Menjelma Laboratorium STEAM di Madipo
YOGYAKARTA — Di tangan Arya, Hasan, Farhan dan Fadil, lahan laboratorium hidup hortikultura tidak sekadar menjadi tempat budidaya, melainkan ruang aktualisasi pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Sabtu (8/8), dengan presisi tinggi, jemari ketiga santri ini memetik satu per satu cabai rawit kantil yang telah memerah sempurna—sebuah praktik langsung yang mengintegrasikan kecakapan motorik, standardisasi operasional prosedur (SOP) agribisnis, dan kesadaran ekologis. Melalui pendekatan multidisiplin berbasis STEAM, mereka tidak hanya sedang memanen komoditas, tetapi juga merekonstruksi esensi ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab sains dalam rantai produksi pangan berkelanjutan.

Aktivitas pascapanen ini berlangsung di lahan Laboratorium Sains dan Kewirausahaan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro (MADIPO), Yogyakarta, Sabtu (8/8). Melalui program budidaya cabai rawit kantil berkelanjutan berbasis pembelajaran proyek (project-based learning), pesantren mencoba mendobrak sekat kaku antara teori akademis di ruang kelas dan realitas kerja di sektor agrobisnis.
Guru Ekonomi MADIPO, Gindo Mangkuto Alam, menjelaskan bahwa para santri terbiasa bergerak menggunakan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. Ketelitian menjadi kunci utama agar produktivitas tanaman tetap terjaga untuk siklus panen berikutnya.

“Cabai yang dipetik wajib yang sudah memerah. Dahan tidak boleh patah, sementara bunga dan bakal cabai harus tetap dijaga,” ujar Gindo.
Tantangan terbesar dalam dunia pertanian modern sering kali bukan pada masa tanam, melainkan pada tata kelola pascapanen dan rantai pasok pemasaran. Di lahan ini, para santri dididik untuk memahami nilai ekonomi sebuah produk sejak dari hulu hingga hilir. Mereka belajar menyortir, menjaga kualitas kesegaran komoditas, hingga menyiapkan strategi logistik untuk mendistribusikan hasil panen ke pasar keesokan harinya.
Gindo menekankan bahwa proses pendidikan pertanian tidak boleh berhenti ketika tanaman mulai menghasilkan buah. Upaya hilirisasi dan penanganan komoditas yang tepat justru menjadi faktor penentu utama yang memberikan nilai jual tinggi di masyarakat.

Pendekatan berbasis STEAM yang dikembangkan oleh MADIPO mencoba mengintegrasikan sains, pertanian ramah lingkungan, kepemimpinan, serta nilai-nilai kewirausahaan Islami. Konsep ruang belajar terbuka ini dirancang secara kontekstual untuk merespons kebutuhan mendesak bangsa terkait regenerasi petani muda dan penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas.
Melalui komoditas sederhana seperti cabai rawit, para santri tidak hanya pulang membawa pengetahuan kognitif. Mereka juga ditempa untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan, kemandirian ekonomi, serta tanggung jawab sosial yang berkelanjutan saat kelak terjun ke tengah masyarakat.Bj
