
Lawan Misinformasi, Peneliti BRIN Latih Siswa Madrasah Literasi Data Berbasis Riset

YOGYAKARTA – MA Diponegoro Yogyakarta mengambil langkah berani dalam mencetak generasi literat di era digital. Berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yogyakarta pada Kamis (30/7), madrasah ini menerjunkan puluhan siswanya ke laboratorium mutakhir lewat Workshop Keterampilan Riset. Langkah strategis ini menempatkan MA Diponegoro sebagai pionir yang sukses membekali pelajar dengan kemampuan berpikir kritis berbasis data, sekaligus benteng kokoh dalam menangkal arus hoaks ruang siber.
Langkah progresif madrasah ini mendapat apresiasi penuh dari BRIN. Ketua Tim Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi BRIN, Ersina Rakhma, MT, menyebut langkah mengenalkan ekosistem sains sejak dini adalah investasi krusial. Kepala MA Diponegoro Yogyakarta pun menyepakati bahwa sinergi ini merupakan fondasi penting untuk melahirkan generasi yang akrab dengan data, bukan hoaks.

Di balik mimbar workshop, suasana interaktif langsung terbangun saat Dr. Yosef Prihanto, S.Si, M.Si, periset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, memantik diskusi. Dia menantang para siswa untuk mengubah kebiasaan komunal sehari-hari menjadi sebuah karya ilmiah.
“Siswa harus naik kelas. Harus bisa membedakan antara sekadar rasa ingin tahu biasa alias ‘kepo’, dengan sikap riset yang substantif,” tegas Yosef di hadapan para peserta.

Menurut Yosef, riset bukanlah momok yang rumit dan menjemukan. Fondasinya sangat sederhana: berawal dari memperhatikan, bertanya, membandingkan, lalu mencari jawaban lewat bukti empiris. Di dalam dunia jurnalisme sains, rasa penasaran itu wajib diolah menjadi pertanyaan klir, data terukur, dan kesimpulan yang sahih.
Guna menanamkan mentalitas tersebut, Yosef mengulas lima tiang utama karakter peneliti: penasaran, jujur, teliti, terbuka, dan objektif. Tidak sekadar dicekoki teori, atmosfer ruang lokakarya memanas saat para siswa ditantang melakukan simulasi kelompok. Mereka diminta merumuskan topik penelitian mandiri dari dinamika terdekat di madrasah, lengkap dengan metode pengumpulan data mulai dari observasi lapangan hingga penyusunan angket.

Usai adu gagasan di sesi diskusi, rombongan siswa dipandu oleh staf BRIN, Panji, untuk membedah profil laboratorium kawasan. Agenda formal lalu ditutup apik dengan penyerahan cinderamata oleh tim Humas.
Asyiknya, para siswa kemudian diajak menjelajahi isi perut laboratorium modern BRIN lewat sesi laboratory tour. Melihat langsung deretan instrumen ilmiah mutakhir di bawah kawalan Panji menjadi penutup manis kunjungan ilmiah tersebut. Melalui program ini, MA Diponegoro Yogyakarta optimistis para siswanya pulang membawa bekal berpikir kritis yang siap menghadapi tantangan zaman.Bj

